Kajen
Oleh : Sarjoko
lengang gema tartil qur’an memang tak bisa ditemu di punggung mungilmu
ribuan pemuda bersarung hilir mudik berhias senyum menghaluskan aspal-aspal goreng yang membeku
wanita berjilbab dengan segala keterpesonaannya
tapakkan kakinya di bumi berjuluk kampung santri
kajen
ramaikah hujan bait al-fiyah masyhur di sudut-sudut makam seperti dulu?
atau klik mouse internet lebih primadona bersama informasi dan komunikasi yang dibawa
masih utuhkah budaya musyawarah, sorogan, dan bandongan yang melabeli plat-plat peantren salafmu
atau hanya kepul asap kereta-kereta warung kopi yang berkolaborasi dengan gorengan dan nasi kucing lewatkan malam-malam keberkahan
pukul dua malam peziarah mendaki tangga pelataran mbah mutamakkin
saat itu dapatkah mereka menyaksikan puluhan bocah berqiyamul lail melototi baris-baris arba’in nawawi?
adakah kesempatan berdecak kagum melihat kening-kening bersujud tahajud
atau hanya serakan orang tidur membujur bersanding hape berdering terpampang di emperan bangunan keramat?
baris-baris gundul tuhfatut thullab tak lagi samar akibat teplok yang ditiup angin
kini malammu tersinari bohlam-bohlam seribu watt
lima puluh pesantren kau pikul
benderang bila dilihat dari gelombang awan pekat yang lewat tutup bulan dan kerlipan bintang
namun masihkah tawa canda selingi muthola’ah kajian kitab kesalafan?
apakah benar kesalafanmu memudar seiring masuknya budaya barat yang diimpor dari paham globalisasi komputerisasi atau apasasi yang buatmu terkekang dalam falsafah
‘al-muhafadzoh alal-qodimi as-sholih wal akhdu biljadidil ashlah’
di mana tradisi mbah mahfudh, mbah nawawi, mbah dullah dan mbah-mbah yang lain berlari?
ke sarang? ke kwagean? ke lirboyo?
kajen
ironis apabila para penimba ilmu kau biarkan berkeliaran di warung internet yang menjamur, berfragmentasi dan busuk
ini bukan zaman santri tunduk pada dawuh kiai
mintalah borgol dan kencangkan bilik-bilik pesantrenmu dengan baja sholawat
kurung para tholibat dari muara arus kerennya majalah teen yang membuat mereka melempar jilbab di malam idul fitri
apakah akhlak hanya diterapkan di sebelah ndalem pengasuh?
kajen
lindungi kiai sepuh dari ancaman preman-preman lokal berpeci, berkrudung
serta preman-preman lain yang berani mengentutkan knalpot beserta gelegar bunyi preketek meledak-ledak
murnikan mulut-mulut santri yang berkarat oleh nama anjing laknat
siramkan huruf ta’limul muta’allim di hati mereka
do’akan agar gusti pengeran tak ciptakan ghisyawah
kajen
utuskan kiai surgi berpatroli tindak penghancur
saat ini banyak celeng-celeng sowan demi kepentingan
apa jadinya bila kolam sarean jadi wisata berpetukan?
kajen
sudut-sudut jalanmu tak lagi sesepi itu
malammu berhias kopi
dan siangmu dirambat pasangan-pasangan berboncengan
melintas santai di depan pesarean
berseragam, berjilbab, atau bahkan buka aurat
merekalah perusak macapat-macapat islami karena topeng-topeng suci yag dianggap sejati
agh!
kajen, 25 oktober 2011
![]() |
| Dino kutumpangi |









kajen!!! begitu bermakna namamu..
BalasHapus