Powered By Blogger

Rabu, Desember 07, 2011

Tahtiman PTM


 Ahad, 04 Desember 2011
Awan putih menyelimuti pagi yang samar-samar disinari cahaya matahari. Cuaca tidak begitu dingin seperti saat malam harinya yang penuh diguyur rerintik hujan. Panas pun tidak. Cuaca di pagi ini benar-benar bersahabat bagi rombongan ziarah Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang terdiri dari para asatidz, pegawai, dan siswa.
Setelah lonceng panjang dibunyikan, rombongan itu berbondong-bondong menuju ke arah makam yang jaraknya kurang lebih 150 meter ke timur. Jajaran pedagang membentang dari tikungan pertama (timur Kulon Banon) hingga makam terus menderet ke penjuru Kajen yang letaknya berada di sekitar sentral keramaian. Pedagang itu beragam. Ada yang jual martabak, gorengan, sandal, jenang, dan aneka kebutuhan hidup lainnya. Bisa diibaratkan bulan syura menjadi hari rayanya masyarakat Kajen sebab saat bulan syuralah segala pernak-pernik kebutuhan tersedia. Di lapangan Yasin contohnya. Di sana aneka arena permainan seperti komedi putar, rumah hantu, kereta-keretanan dan lain-lain ada.
Tahlil hari ini adalah tahlil yang ke dua selama bulan syura. Yang pertama diselenggarakan pada Kamis lalu, sebagai tahlil awal bulan yang rutin dilaksanakan setiap bulannya.
Acara tahlil dibimbing oleh KH. Ali Fattah Ya’qub diteruskan do’a oleh beliau. Seperti biasanya, para siswa mengikutinya dengan khusyu’ dan nuansa syahdu. Walau beberapa titik keramaian dan kegaduhan siswa-siswa yang guyonan terdengar riuh renyah. Tapi hal itu tidak mengurangi suasana penuh penghayatan para siswa yang ikut melantunkan tahlil.
Para siswa membaca Alquran dengan khidmat (dok)
Ditutup dengan doa, para siswa langsung menuju keluar. Hanya ada beberapa gerombol saja yang masih ada di dalam area bangunan makam. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak tiga aliyah yang tengah menunggu waktu acara tahtiman bin nadhor yang diselenggarakan oleh Panitia Takhtiman Mutakhorijin (PTM).
Beberapa siswa melepaskan penat dengan tiduran setelah acara (dok)
Sesuai jadwal tahtiman dimulai pada jam 09.00 wib tepat. Namun berhubung jam 08.00 wib tahlilan sekolah sudah selesai, jadilah M. Afif Fatkhurrahman, ka.sie Kegiatan PTM merevisi jadwal. Tahtiman diselenggarakan setengah jam lebih awal dari jadwal semula. Acara berlangsung khidmat. Para siswa dari empat kelas banyak yang sudah menyelesaikan bacaannya dengan penuh penghayatan dan tanggung jawab. Namun walau mayoritas sudah selesai, ada dua siswa yang baru memasuki lokasi. Mereka mengaku mengikuti jadwal yang pertama dan tidak tahu ada revisi.
“ Agak kecewa sih. Lha tadi panitianya bilang jam Sembilan baru mulai,” terangnya kepada wartawan jin1abad. Siswa yang mendapat jatah juz 30 itu kemudian membolak-balikkan lembaran mushafnya.
Sementara menunggu doa dimulai, beberapa siswa tiduran santai. Ada yang saling melempar canda, ada yang memang tidur beneran. Suasana kompak menyelimuti teman-teman 3 Aly. Mereka sadar bahwa kekeluargaan semacam itulah yang kelak membuat alumni Mathali’ul Falah bisa rukun, tidak lupa antara santu dengan yang lain. Di akhir acara, Ulin Ni’am diplot sebagai pembaca doa dengan pertimbangan bahwa siswa asal Demak ini lebih ‘macem’ daripada yang lain.
“ Setelah acara ini dimohon untuk menuju ke madrasah ibtidaiyyah guna mengikuti prosesi makan-makan,” ucap Irham Habib, anggota seksi kegiatan. Para siswa yang tadinya ngantuk perlahan mampu membuka mata lebar-lebar. Kata ‘makan-makan’ membuat kantuk mereka hilang seketika.
Ada cerita di balik penyelenggaraan tahtiman tahun ini, utamanya di dalam masalah konsumsi. Saat siding sudah disepakati bahwa urusan konsumsi menjadi tanggungan kelas masing-masing agar bujet di PTM bisa diminimalisir mengingat banyak kebutuhan yang lain. Semua setuju dan sudah disosialisasikan kepada semua anggotanya.
Menjelang hari-H, ada dua kelas yang belum mengonfirmasi mengenai makan-makan ini. Akhirnya panitia hanya mendapat dua kelas saja yang ikut makan-makan. Namun beberapa saat kemudian kedua kelas itu turut berpartisipasi. Jadilah suasana kompak lebih terasa geregetnya. Semua sadar bahwa memang itulah cara yang bisa ditempuh. Mengandalkan uang kegiatan di bujet PTM memang sungguh mengerikan sebab iurannya sendiri sudah mencapai angka tujuh ratus ribu rupiah. Andai konsumsi dibujet juga, perkonsumsi taruhlah harga lima ribu dikali sepuluh maka jumlahnya drastis. Berbeda semisal peracara ditarik lima ribu peracara maka terasa lebih mudah.
Rofik berpose di depan kamera
Jam Sembilan lebih sedikit para siswa sudah mulai berkumpul di gedung ibtida’. Ada yang bermain bola, berdialog, sampai yang tidur menggelojor (sempat-sempatnya). Seksi kegiatan berdatangan dengan membawa tapsi berisi makanan. Ada enam belas tapsi yang didatangkan. Semua terlihat tak sabar dan akhirnya setelah mendapat persetujuan dari seksi kegiatan sebagai pengelola, siswa yang umumnya ‘ngelehan’ langsung menyerbu.
Indahnya kebersamaan
“ satu tapsi berenam,” teriak Rofik, seksi kegiatan. Dia geram melihat kebrutalan teman-temannya yang tidak sabar menyantap nasi lauk lele dan sambel terong tersebut. Karena ada yang tidak hadir, ada beberapa kelompok yang makan berlima. Suasana yang sebelumnya ramai mendadak sunyi. Hanya ada suara kunyahan yang membahana. Para peziarah yang lewat memperhatikan tingkah siswa-siswa yang masih fokus pada lelenya itu.
“ E…macan!”
“ Lelene ojo dipangan dewe a…”
“ Wah..lele kok terus,”
“ Seng penting wareg.”
Berbagai komentar keluar dari mulut para siswa. Dari rangkaian acara yang sudah dilalui semua berharap atas satu kata yang masih menjadi mantra bagi siswa-siswa yang percaya pada ‘BERKAH’. Ya, semua untuk ngalap berkah karena pada hari tersebut diperingati oleh para siswa sebagai acara peringatan haul syekh Ah. Mutamakkin. Pada malamnya diselenggarakan pula pengajian umum. Paginya bursa buku HSM (HSM book fair) ikut meramaikan sudut-sudut madrasah.(jin1abad. Sarjoko).

0 komentar:

Posting Komentar