Powered By Blogger

MUSALSAL MUTAKHORIJIN PIM TAHUN 2011-2012

Kegiatan ini merupakan prosesi pemberian ijazah beberapa hadits yang jalur periwayatan hadits itu, baik rowi dan sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

PESAN2 "Ingat Tujuan Dari Rumah"

Ingatan yang perlu kita ingat, adalah tujuan sejati dari terselenggarakannya acara ini, Yakni agar kita selalu teringat, terjaga,dan terteguhkan di aspek aqidah, berupa Islam yang tidak setengah-setengah, apalagi KTP / sebatas menurut formalitas (anut-anutan orang sekitar).

MUNAQOSYAH

Setelah berjibun riwa-riwi membuat KTA sampai ada sebagian siswa yang telat, akhirnya pertanggungjabawan itu datang juga. Tepat di hari Senin, 05 Maret lalu para siswa 3 Aly harus mampu mempresentasikan apa yang mereka tulis..

GALERY FOTO MUSALSAL

Album foto kenangan musalsal 3 Aly 2011-2012

TAHTIMAN PTM

Ahad, 04 Desember 2011 Awan putih menyelimuti pagi yang samar-samar disinari cahaya matahari. Cuaca tidak begitu dingin seperti saat malam harinya yang penuh diguyur rerintik hujan. Panas pun tidak. Cuaca di pagi ini benar-benar bersahabat bagi rombongan ziarah Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang terdiri dari para asatidz, pegawai, dan siswa.

Kamis, Maret 22, 2012

Munaqosyahan

Setelah berjibun riwa-riwi membuat KTA sampai ada sebagian siswa yang telat, akhirnya pertanggungjabawan itu datang juga. Tepat di hari Senin, 05 Maret lalu para siswa 3 Aly harus mampu mempresentasikan apa yang mereka tulis.
Banyak kesan yang tertuang di dalamnya. Ada yang 'mlongok' karena tidak tahu apa yang mereka jawab, ada yang ceriwis sebab hafal materi. Tak jarang beberapa siswa senyam-senyum pepsoden karena bingung. Berikut hasil jepretan yang dilakukan oleh redaksi kami.



menunggu penguji (munaqisy)
sedikit canda


santai...

menunggu jawaban

mendengar pertanyaan

deretan kursi panas

meneliti naskah

presentasi KTA

mengamati


ada yang lucu...




menunggu giliran, merancang strategi





Dadio Wong seng Duwe Akal

Lapangan PIM, Kamis, 23 Februari 2012

Pagi itu matahari mulai terasa membakar kulit saat pengumuman diadakan tausyiah bergema lewat pengeras suara yang terpasang di hampir setiap sudut gedung PIM. Para siswa langsung menempatkan diri di emperan kelas dan saling berebut tempat yang dianggap nyaman. Pengumuman kembali terdengar bahwa setiap siswa diharuskan menempatkan diri di gedung bagian utara (menghadap selatan). Jadilah terik yang menyengat itu benar-benar membuat sebagian siswa merasa gerah karena mendapat tempat yang kurang beruntung. Namun kegerahan itu mulai tereduksi saat sosok bersahaja KH. Nafi’ Abdillah rawuh untuk mengisi tausyiah rutin bulanan. Suasana benar-benar hening. Hanya ada suara kelotekan palu para tukang yang beradu dengan benda-benda keras yang memecah kekhusyukan para siswa yang dahaga akan kata-kata pembasuh jiwa.
“ Apa itu tausyiah?” Begitulah kata-kata yang dilontarkan Abah Nafi’ saat memulai tausyiahnya. Kemudian beliau menjelaskan mengenai wajibnya belajar bagi setiap muslimin dan muslimat. طلب العلم فريضة علي كل مسلم و مسلمة
Bahwa ilmu terdiri dari beberapa bagian, yaitu ilmu syari’ah dan hikmah. Dan wajib bagi kita untuk mencarinya.
“ Yang disuruh tholabul ‘ilmi harus yang punya akal. Nek gak duwe akal yo ora wajib. Contone etok-etok loro,” dawuh Abah yang membuat sebagian besar siswa berinstropeksi. Dawuh beliau ini kemudian menjadi sebuah perbincangan di kalangan siswa khususnya kelas 3 Aly A yang kemudian membahas hingga dawuh KH. Abdullah Salam yang diceritakan bahwa beliau memberi batasan izin sakit seorang siswa. Yaitu ketika sakit itu benar-benar membahayakan dan membuat orang tersebut tidak bisa berjalan. ‘Nek iseh kuwat melaku yo wajib sekolah’.
Di keterangan selanjutnya Abah Nafi’ secara tersirat membahas kenakalan siswa. Beliau menjelaskan bahwa ada peraturan untuk murid untuk ditaati oleh murid. Seorang murid tidak boleh meniru para asatidz seperti membawa hp, sarungan dll dan hal lain yang sudah termaktub dalam TATIB siswa. Peraturan murid ya untuk murid dan peraturan guru ya untuk guru. Apabila ada siswa yang ingin melakukan apa yang dilakukan oleh guru dalam hal peraturan, seharusnya para siswa tersebut berinstropeksi sejauh mana mereka bisa menyamai kadar para asatidz.
اذا صارت هكذا فليأكل شاء
Dimisalkan apabila guru terlambat maka siswa harus mempelajari kenapa guru belum atau tidak masuk. Bukannya berprasangka buruk (su’dzon) atau bahkan menyepelekan. Manusia diberkati akal. Sebagai orang yang berakal sudah seharusnya siswa dapat berpikir. Karena peraturan merupakan sarana untuk mendapat ilmu (yang bermanfaat). Insya Allah.
Dalam kenyataannya, kenakalan siswa semakin tahun cenderung meningkat. Bahkan di tahun ini merupakan rekor pemanggilan wali murid dalam beberapa tahun belakangan. Hal ini pula yang sempat menjadi topik hangat. Siapa yang salah atas kenakalan siswa? Salah seorang guru mengatakan itu bukan seratus persen kesalahan siswa. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya semisal faktor lingkungan dan keluarga. Untuk itu dibutuhkan kerja sama berbagai pihak guna menanggulangi kemerosotan moral para siswa. Hubungan erat tiga elemen (tripartit) pendidikan; keluarga, sekolah, dan lingkungan perlu ditingkatkan guna membentuk karakter pribadi yang diharapkan. Yakni menjadi insan yang sholih dan akrom.
“ Seng ora naati peraturan mugo-mugo edan seteruse,” lontar Abah Nafi’ bernada gurau. Tak satupun siswa yang mengamini ucapan beliau. Namun siswa akhirnya mengamini setelah Abah mengatakan para siswa tidak berani mengamini berarti masih mempunyai niat untuk melanggar peraturan.
“ Rak ketok edane tapi sepenake dewe. Contone poine akeh.” Ikrar itu juga menandai bahwa siswa punya keinginan untuk menjadi seorang tholabul ilmi yang berakhlakul karimah.
Terakhir Abah Nafi’ berpesan agar para murid tidak membuat izin fiktif karena hal itu bisa menjadi keresahan di dalam hati. Lebih dari itu, pembuatan izin fiktif (semisal sakit) malah bisa kembali kepada diri sendiri. Karena izin fiktif termasuk dalam kategori maksiat. Dan maksiat membuat rasa tidak enak di hati.
Semoga apa yang beliau sampaikan bermanfaat bagi kita semua. Dan apabila ada teman pembaca yang mendapat kejanggalan atas tulisan ini, kami dari seksi dokumentasi berharap akan ada pembenahan dan penyempurnaan. Terima kasih. (Sarjoko.Red)

Kembali pada Tujuan Rumah


Kembali ke Tujuan Rumah

Ingatan yang perlu kita ingat, adalah tujuan sejati dari terselenggarakannya acara ini, Yakni agar kita selalu teringat, terjaga, & terteguhkan di aspek aqidah, berupa Islam yang tidak setengah-setengah, apalagi KTP / sebatas menurut formalitas (anut-anutan orang sekitar). Padahal seharusnya secara totalitas ((كافّةً. Karena jika tidak, maka laksana hamba yang “Ora’ ngalor ora’ ngidul (لاشرقيّة ولا غربيّةl(”, itulah ungkapan untuk ia yang tidak berperinsip jelas dalam hidupnya, terlebih untuk era kini yang tidak bisa ditebak sebagai periode hidup yang apa dan mana?Dan satu hal juga, karena realitas kita, yakni insan, tempat pastinya lupa dan dosa.
Sudah seewajibnya bagi kita untuk mendengar secara seksama & khidmat lantunan-lantunan hikmah yang di utarakan para masyayikh dan para Ustadz yang lain, sehingga kita mampu menginstropeksi diri pribadi masing-masing, demi kesejahteraan hidup yang berlandasan menurut Al-Qur’an & As-Sunnah.
Haruslah kita renungi kembali betapa dahsyatnya firman Allah ; “يَوْمَ نَدْعُوْا كلَّ اُناس بإمامهْم  (Di hari itu, Aku (Allah) akan memanggil setiap satuan manusia “di alam makhsyar” beserta imam yang ia anut)  Q.S Al-Isro Ayat 71.  Dan sabda nabi Muhammad SAW ; "المؤمن مرأة المؤمنين" (Seseorang yang beriman adalah cermin bagi mu’min-mu’min selainnya), &إنّما يخشر النّاس مع من أحبّ
 (Sesunggunhnya manusia akan di kumpulkan “di alam Makhsyar”  bersama orang yang  ia idola-idolakan / cintai).

Jadi hal yang harus kita lakukan adalah mengevaluasi siapakah panutan kita, sandaran kita, idola kita, cinta kita ???,,
Orang Baratkah ?Personil band-kah? Persepak bolakah ? Akankah karakternya yang demikian layak ternobatkan sebagai penghuni surga a
tau neraka??                    
Maka pikirkan secara jangka panjang untuk raga dan jiwa ini selayaknya di taruh ke mana & kepada siapa??? Sehingga adanya dapat menjadi syafaat di satu hari, di mana tidak ada 1 pun yang mampu menolong dalam kegalauan, kesukaran, & kesempitan dalam gerak & laku.
-Kembali ke lingkungan kita, bahwasanya santri PIM sejatinya tidak kalah dengan para siswa-siswa sekolah lain, hanya saja kasus kronis yang bersemayam adalah “malas, lemah semangat, ketiadaan spirit juang, optimis, & al-hirs / sungguh-sungguh”, Maka camkan bait syair yang terurai berikut ini ;
"إجْهدْ ولاتكسلْ ولاتك غافلاً # فندامة العقبى لمنْ يتكاسل"
(Bersungguh-sungguhlah, jangan bermalas-malasan dan jangan Anda terlanjur menjadi si bodoh. Maka jika demikian, penyesalan yang berlarut hanya teruntuk ia yang bermalas-malasan)
Maka Solusi yang membantu adalah membuat rangkaian kalimat “INGATLAH TUJUAN DARI RUMAH” di tempat yang mudah jadi sorotan mata, Sehingga ada jamuan ulang untuk hati & keyakinan yang lebih teguh lagi. (Faizin.Red. Berdasarkan kutipan ceramah mau'idhoh hasanah oleh ust. KH. Ali Fattah Ya'qub di halaman PIM, 01 Desember 2012)

Rabu, Desember 07, 2011

Silaturrahim KMF


PIM, tempat sejuta cerita
Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang didirikan pada tahun 1912 tengah mempersiapkan sebuah hajatan besar-besaran. Hajatan yang dimaksud adalah peringatan seratus tahun (satu abad) yang akan dilaksanakan pada bulan Desember tahun depan. Untuk menyelenggarakan acara yang superbesar dan spektakuler tersebut (karena dihadiri seluruh alumninya) para dewan asatidz yang notabene penyelenggara dituntut untuk menyelenggarakan kegiatan yang bukan asal jalan saja.
Seratus tahun merupakan usia yang fantastis bagi sebuah lembaga. Catatan kemerdekan negara RI saja baru menapaki tahun ke-66. Berarti Mathali’ul Falah 'merdeka' jauh sebelum negara ini merdeka.
Dari seratus tahun tersebut pasti banyak mengorbitkan alumni-alumninya di kancah kehidupan nasional atau bahkan internasional. Banyak alumninya yang jadi tokoh di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, bahkan negara. Untuk itulah ada sebuah kiat mengumpulkan keseluruhannya dalam satu tempat. Para siswa beda generasi dikumpulkan guna mempererat silaturrahmi, saling berbagi cerita, saling menjalin komunikasi. Diharapkan para alumni Mathali’ul Falah tidak meninggalkan tali silaturrahmi dengan sesame alumni lainnya dan saling mengenal dengan generasi yang lain. Itulah yang tampaknya tengah dipersiapkan para asatidz.
Persiapan silaturrahmi kali ini difokuskan untuk para alumni yang berasal dari kabupaten Pati (KMF biro Pati). Sebanyak kurang lebih 400 undangan tersebar ke seluruh penjuru kabupaten. Acara dipersiapkan sebaik mungkin agar para alumni yang bernostalgia dengan masa lalunya semakin merindukan suasana kondusifnya PIM. Para siswa 3 Aly mendapat job penting guna menyukseskan acara ini. Sebanyak 30 orang diberi kehormatan untuk andil dalam acara tersebut.
Ustadz Syiddad dan Ustadz Ulin Nuha tampak paling sibuk mengomando siswa 3 Aly untuk bekerja bakti. Suasana ruang kelas yang akan digunakan sebagai ruang makan pasca acara masih sangat kotor (tepatnya menjijikkan) setelah dijadikan sebagai ruang penyimpanan besek tahtiman pada sorenya. Sampah-sampah berserakan.
“ Nanti dipel ya,” pinta Ustadz. Para siswa yang hadir dalam acara gotong royong tersebut sangat antusias mengikuti titah-titah yang diberikan. Mereka termotivasi untuk ikut menyukseskan acara seniornya. Bangku dan meja dipindah ke eklas lain. Sampah-sampah dibersihkan, dipungut, dimasukkan ke dalam tong sampah. Setelah itu kelas dipel agar sisa-sisa kotoran dapat hilang.
Setelah acara bersih-bersih berakhir, masih ada lagi agenda lanjutan. Menibun halaman yang tergenang oleh air. Sebelum itu mereka membersihkan lumpur-lumpur menggunakan alat. Setelah itu lumpur diangkutkan ke mobil brondol untuk dibuang. Barulah halaman ditimbun menggunakan pasir.
Lelah dirasakan oleh kawan-kawan 3 Aly. Namun hal itu sangat mereka nikmati sebab mereka beruntung dapat menorehkan peranannya dalam acara ini. Esoknya mereka masih mendapat tugas membantu menyukseskan jalannya acara. (jin1abad. Sarjoko)

WAREG
Panggung Acara

Pagi yang cukup cerah mengundang siswa 3 Aly yang mendapat tugas untuk menuju ke komplek PIM. Seragam biru mereka kenakan. Hari ini ada silaturrahmi KMF Pati yang dihadiri oleh Direktur PIM, KH. M. A. Sahal Mahfudz. Para siswa langsung mendapat intruksi menata kursi di halaman. Yang lain ikut mengambil barang-barang di ndalemnya KH. Mu’adz Thohir menggunakan mobil Panther sekolahan. Semua melaksanakan tugasnya dnegan sepenuh hati.
Saat mobil datang para siswa langsung membantu menurunkan barang berupa piring, mangkok dll dan mengusungnya ke kelas sebelah barat Perpustakaan PIM. Hilir-mudik para siswa membawanya. Kringat sampai mengucur menandakan bahwa mereka tengah bekerja keras.  lima kali mobil membawa barang dari ndalemnya abah Mu’adz. Yang kedua membawa barang pecah belah yang masih tertinggal dan konsumsi, yang ketiga konsumsi. Yang lain lauk dan segala tetek bengeknya.
Para siswa dibagi tugas sebagai tukang parkir, tukang antar konsumsi, dan menata tempat makan. Tiga orang ndalem mengkoordinir para siswa. Tempat ditata sedemikian rupa hingga terpampanglah tempat yang meggiurkan. Aneka hidangan beraroma lezat seribit-seribit menerpa hidung siswa yang belum sarapan. Jadilah perutnya semakin keroncongan. Lelah, capek dan segala yang berbau keluhan mampir di tubuh siswa. Sampai-sampai ada yang tertidur di kelas.
Tugas yang mereka jalankan benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Ada satu cerita di mana saat menata meja, plastik mika yang digunakan sebagai pelapis kehabisan. Dua siswa bergegas mencari plastik di toko elfour membawa motor scoopy pinjaman dari dua pengunjung bursa yang sama sekali tak mereka kenal. Plastik didapat. Alhamdulillah…
Setelah acara selesai, para siswa mendapat kejutan. Prasmanan yang disediakan untuk tamu undangan masih banyak tersisa. Mereka langsung secepat kilat mencicipi sate, udang, ikan dan banyak jenis makanan lainnya. Ada siswa yang pada hari itu puasa langsung membatalkannya karena tidak kuat oleh godaan ikan dan hidangan yang terpampang di depan mata. Perut mereka dijamin terisi penuh….(jin1abad. Sarjoko)

Tahtiman PTM


 Ahad, 04 Desember 2011
Awan putih menyelimuti pagi yang samar-samar disinari cahaya matahari. Cuaca tidak begitu dingin seperti saat malam harinya yang penuh diguyur rerintik hujan. Panas pun tidak. Cuaca di pagi ini benar-benar bersahabat bagi rombongan ziarah Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang terdiri dari para asatidz, pegawai, dan siswa.
Setelah lonceng panjang dibunyikan, rombongan itu berbondong-bondong menuju ke arah makam yang jaraknya kurang lebih 150 meter ke timur. Jajaran pedagang membentang dari tikungan pertama (timur Kulon Banon) hingga makam terus menderet ke penjuru Kajen yang letaknya berada di sekitar sentral keramaian. Pedagang itu beragam. Ada yang jual martabak, gorengan, sandal, jenang, dan aneka kebutuhan hidup lainnya. Bisa diibaratkan bulan syura menjadi hari rayanya masyarakat Kajen sebab saat bulan syuralah segala pernak-pernik kebutuhan tersedia. Di lapangan Yasin contohnya. Di sana aneka arena permainan seperti komedi putar, rumah hantu, kereta-keretanan dan lain-lain ada.
Tahlil hari ini adalah tahlil yang ke dua selama bulan syura. Yang pertama diselenggarakan pada Kamis lalu, sebagai tahlil awal bulan yang rutin dilaksanakan setiap bulannya.
Acara tahlil dibimbing oleh KH. Ali Fattah Ya’qub diteruskan do’a oleh beliau. Seperti biasanya, para siswa mengikutinya dengan khusyu’ dan nuansa syahdu. Walau beberapa titik keramaian dan kegaduhan siswa-siswa yang guyonan terdengar riuh renyah. Tapi hal itu tidak mengurangi suasana penuh penghayatan para siswa yang ikut melantunkan tahlil.
Para siswa membaca Alquran dengan khidmat (dok)
Ditutup dengan doa, para siswa langsung menuju keluar. Hanya ada beberapa gerombol saja yang masih ada di dalam area bangunan makam. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak tiga aliyah yang tengah menunggu waktu acara tahtiman bin nadhor yang diselenggarakan oleh Panitia Takhtiman Mutakhorijin (PTM).
Beberapa siswa melepaskan penat dengan tiduran setelah acara (dok)
Sesuai jadwal tahtiman dimulai pada jam 09.00 wib tepat. Namun berhubung jam 08.00 wib tahlilan sekolah sudah selesai, jadilah M. Afif Fatkhurrahman, ka.sie Kegiatan PTM merevisi jadwal. Tahtiman diselenggarakan setengah jam lebih awal dari jadwal semula. Acara berlangsung khidmat. Para siswa dari empat kelas banyak yang sudah menyelesaikan bacaannya dengan penuh penghayatan dan tanggung jawab. Namun walau mayoritas sudah selesai, ada dua siswa yang baru memasuki lokasi. Mereka mengaku mengikuti jadwal yang pertama dan tidak tahu ada revisi.
“ Agak kecewa sih. Lha tadi panitianya bilang jam Sembilan baru mulai,” terangnya kepada wartawan jin1abad. Siswa yang mendapat jatah juz 30 itu kemudian membolak-balikkan lembaran mushafnya.
Sementara menunggu doa dimulai, beberapa siswa tiduran santai. Ada yang saling melempar canda, ada yang memang tidur beneran. Suasana kompak menyelimuti teman-teman 3 Aly. Mereka sadar bahwa kekeluargaan semacam itulah yang kelak membuat alumni Mathali’ul Falah bisa rukun, tidak lupa antara santu dengan yang lain. Di akhir acara, Ulin Ni’am diplot sebagai pembaca doa dengan pertimbangan bahwa siswa asal Demak ini lebih ‘macem’ daripada yang lain.
“ Setelah acara ini dimohon untuk menuju ke madrasah ibtidaiyyah guna mengikuti prosesi makan-makan,” ucap Irham Habib, anggota seksi kegiatan. Para siswa yang tadinya ngantuk perlahan mampu membuka mata lebar-lebar. Kata ‘makan-makan’ membuat kantuk mereka hilang seketika.
Ada cerita di balik penyelenggaraan tahtiman tahun ini, utamanya di dalam masalah konsumsi. Saat siding sudah disepakati bahwa urusan konsumsi menjadi tanggungan kelas masing-masing agar bujet di PTM bisa diminimalisir mengingat banyak kebutuhan yang lain. Semua setuju dan sudah disosialisasikan kepada semua anggotanya.
Menjelang hari-H, ada dua kelas yang belum mengonfirmasi mengenai makan-makan ini. Akhirnya panitia hanya mendapat dua kelas saja yang ikut makan-makan. Namun beberapa saat kemudian kedua kelas itu turut berpartisipasi. Jadilah suasana kompak lebih terasa geregetnya. Semua sadar bahwa memang itulah cara yang bisa ditempuh. Mengandalkan uang kegiatan di bujet PTM memang sungguh mengerikan sebab iurannya sendiri sudah mencapai angka tujuh ratus ribu rupiah. Andai konsumsi dibujet juga, perkonsumsi taruhlah harga lima ribu dikali sepuluh maka jumlahnya drastis. Berbeda semisal peracara ditarik lima ribu peracara maka terasa lebih mudah.
Rofik berpose di depan kamera
Jam Sembilan lebih sedikit para siswa sudah mulai berkumpul di gedung ibtida’. Ada yang bermain bola, berdialog, sampai yang tidur menggelojor (sempat-sempatnya). Seksi kegiatan berdatangan dengan membawa tapsi berisi makanan. Ada enam belas tapsi yang didatangkan. Semua terlihat tak sabar dan akhirnya setelah mendapat persetujuan dari seksi kegiatan sebagai pengelola, siswa yang umumnya ‘ngelehan’ langsung menyerbu.
Indahnya kebersamaan
“ satu tapsi berenam,” teriak Rofik, seksi kegiatan. Dia geram melihat kebrutalan teman-temannya yang tidak sabar menyantap nasi lauk lele dan sambel terong tersebut. Karena ada yang tidak hadir, ada beberapa kelompok yang makan berlima. Suasana yang sebelumnya ramai mendadak sunyi. Hanya ada suara kunyahan yang membahana. Para peziarah yang lewat memperhatikan tingkah siswa-siswa yang masih fokus pada lelenya itu.
“ E…macan!”
“ Lelene ojo dipangan dewe a…”
“ Wah..lele kok terus,”
“ Seng penting wareg.”
Berbagai komentar keluar dari mulut para siswa. Dari rangkaian acara yang sudah dilalui semua berharap atas satu kata yang masih menjadi mantra bagi siswa-siswa yang percaya pada ‘BERKAH’. Ya, semua untuk ngalap berkah karena pada hari tersebut diperingati oleh para siswa sebagai acara peringatan haul syekh Ah. Mutamakkin. Pada malamnya diselenggarakan pula pengajian umum. Paginya bursa buku HSM (HSM book fair) ikut meramaikan sudut-sudut madrasah.(jin1abad. Sarjoko).

KTA

Ust. Ibrahim Mizan mengumumkan lewan pengeras suara bahwa jam ke-3 siswa 3 Aly diinstruksikan segera menuju auditorium PMH Putra guna mengikuti sosialisasi pembuatan Karya Tulis Arab sebagai syarat mutlak mengikuti ujian caturwulan ke II. Sebagai intermezo Bpk. H. Asnawi Rohmat, Lc menyampaikan teknik-teknik pembuatan KTA yang mudah.
“ Seharusnya dalam satu minggu kalian sudah bisa membuat satu karangan,” ujarnya. Siswa memperhatikan seksama penuturan dari Ro’is Lajnah Al-lughoh Al-Arobiyah tersebut. Selain dibekali cara pembuatan KTA melalui pelajaran Insya’, Pak Asnawi membuat dorongan motivasi pada murid-murid bahwa perintah menulis tersirat dalam ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, Iqra’. Logikanya, membaca diperintahkan bukan hanya pada teks al-Qur’an saja. Tetapi membaca hal-hal lain seperti halnya membaca keadaan.
Nah, refleksi pembelajaran pembacaan keadaan atau biasa disebut pengamatan inilah kiranya bisa ditulis oleh siswa pada sebuah karangan karya tulis. Untuk mengasah kemampuan siswa ini diwajibkan menulisnya dengan bahasa Arab. Tema yang ditawarkan ada lima, yaitu: Syari’at (syar’iyyah), Aqidah (al-aqidah), Bahasa (al-lughoh), Sosial (al-ijtima’iyah), dan Pendidikan Islam (tarbiyatul islamiyah).

Kerangka kegiatan KTA meliputi
24 Oktober- Sosialisasi
03 Nopember- Setor judul
21 Nopember – 12 Februari 2012- Isytisyrof
22 Februari- Setor KTA
05 Maret- Munaqosyah
12 Maret- Setor Nilai KTA (oleh penguji dan pembimbing)
15 Maret- pengumuman nilai (81 ke atas mendapat syahadah)
18 Maret- menyetor foto 3x4 bagi nilai jayid jidd ke atas
08 April- seleksi KTA terbaik
Nb: Jadwal bisa berubah sewaktu-waktu sesuai jadwal Tim KTA rilisan terbaru

Proses pembuatan sebenarnya tidak rumit. Hanya para siswa kebanyakan harus menyesuaikan pikirannya dengan para musyrif (pembimbing). Semisal pembimbingnya adalah seorang idealis, tak mungkin pembahas menawarkan judul yang salaf. Begitu pula sebaliknya. Namun itulah tantangan bagi siswa 3 Aly untuk siap maju dalam berbagai urusan dan tantangan. Selogan sea games agaknya perlu kita pahat dalam-dalam di hati. KITA BISA!
“Showwir anta wahid wa ana wahid,” pinta Pak Ibrahim ketika ada kerangka KTA yang sudah dinyatakan diterima (acc). Apabila masih belum lengkap, Pak Bram (sapaan Bpak Ibrahim) mengembalikan kepada si bahis untuk segera melengkapi dan memperbaiki data yang sudah dikoreksi. Dan untuk KTA yang memiliki kemiripan maka kebijakan dari Tim adalah mengembalikan keduanya atau memenangkan bahis yang pertama mengumpulkan kerangka.

Jumat, November 04, 2011

Puisi



Kajen
Oleh : Sarjoko

lengang gema tartil qur’an memang tak bisa ditemu di punggung mungilmu
ribuan pemuda bersarung hilir mudik berhias senyum menghaluskan aspal-aspal goreng yang membeku
wanita berjilbab dengan segala keterpesonaannya
tapakkan kakinya di bumi berjuluk kampung santri
kajen
ramaikah hujan bait al-fiyah masyhur di sudut-sudut makam seperti dulu?
atau klik mouse internet lebih primadona bersama informasi dan komunikasi yang dibawa
masih utuhkah budaya musyawarah, sorogan, dan bandongan yang melabeli plat-plat peantren salafmu
atau hanya kepul asap kereta-kereta warung kopi yang berkolaborasi dengan gorengan dan nasi kucing lewatkan malam-malam keberkahan
pukul dua malam peziarah mendaki tangga pelataran mbah mutamakkin
saat itu dapatkah mereka menyaksikan puluhan bocah berqiyamul lail melototi baris-baris arba’in nawawi?
adakah kesempatan berdecak kagum melihat kening-kening bersujud tahajud
atau hanya serakan orang tidur membujur bersanding hape berdering terpampang di emperan bangunan keramat?
baris-baris gundul tuhfatut thullab tak lagi samar akibat teplok yang ditiup angin
kini malammu tersinari bohlam-bohlam seribu watt
lima puluh pesantren kau pikul
benderang bila dilihat dari gelombang awan pekat yang lewat tutup bulan dan kerlipan bintang
namun masihkah tawa canda selingi muthola’ah kajian kitab kesalafan?
apakah benar kesalafanmu memudar seiring masuknya budaya barat yang diimpor dari paham globalisasi komputerisasi atau apasasi yang buatmu terkekang dalam falsafah
‘al-muhafadzoh alal-qodimi as-sholih wal akhdu biljadidil ashlah’
di mana tradisi mbah mahfudh, mbah nawawi, mbah dullah dan mbah-mbah yang lain berlari?
ke sarang? ke kwagean? ke lirboyo?
kajen
ironis apabila para penimba ilmu kau biarkan berkeliaran di warung internet yang menjamur, berfragmentasi dan busuk
ini bukan zaman santri tunduk pada dawuh kiai
mintalah borgol dan kencangkan bilik-bilik pesantrenmu dengan baja sholawat
kurung para tholibat dari muara arus kerennya majalah teen yang membuat mereka melempar jilbab di malam idul fitri
apakah akhlak hanya diterapkan di sebelah ndalem pengasuh?
kajen
lindungi kiai sepuh dari ancaman preman-preman lokal berpeci, berkrudung
serta preman-preman lain yang berani mengentutkan knalpot beserta gelegar bunyi preketek meledak-ledak
murnikan mulut-mulut santri yang berkarat oleh nama anjing laknat
siramkan huruf ta’limul muta’allim di hati mereka
do’akan agar gusti pengeran tak ciptakan ghisyawah
kajen
utuskan kiai surgi berpatroli tindak penghancur
saat ini banyak celeng-celeng sowan demi kepentingan
apa jadinya bila kolam sarean jadi wisata berpetukan?
kajen
sudut-sudut jalanmu tak lagi sesepi itu
malammu berhias kopi
dan siangmu dirambat pasangan-pasangan berboncengan
melintas santai di depan pesarean
berseragam, berjilbab, atau bahkan buka aurat
merekalah perusak macapat-macapat islami karena topeng-topeng suci yag dianggap sejati
agh!

kajen, 25 oktober 2011

Dino kutumpangi