Powered By Blogger

MUSALSAL MUTAKHORIJIN PIM TAHUN 2011-2012

Kegiatan ini merupakan prosesi pemberian ijazah beberapa hadits yang jalur periwayatan hadits itu, baik rowi dan sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

PESAN2 "Ingat Tujuan Dari Rumah"

Ingatan yang perlu kita ingat, adalah tujuan sejati dari terselenggarakannya acara ini, Yakni agar kita selalu teringat, terjaga,dan terteguhkan di aspek aqidah, berupa Islam yang tidak setengah-setengah, apalagi KTP / sebatas menurut formalitas (anut-anutan orang sekitar).

MUNAQOSYAH

Setelah berjibun riwa-riwi membuat KTA sampai ada sebagian siswa yang telat, akhirnya pertanggungjabawan itu datang juga. Tepat di hari Senin, 05 Maret lalu para siswa 3 Aly harus mampu mempresentasikan apa yang mereka tulis..

GALERY FOTO MUSALSAL

Album foto kenangan musalsal 3 Aly 2011-2012

TAHTIMAN PTM

Ahad, 04 Desember 2011 Awan putih menyelimuti pagi yang samar-samar disinari cahaya matahari. Cuaca tidak begitu dingin seperti saat malam harinya yang penuh diguyur rerintik hujan. Panas pun tidak. Cuaca di pagi ini benar-benar bersahabat bagi rombongan ziarah Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang terdiri dari para asatidz, pegawai, dan siswa.

Selasa, Juni 12, 2012

Siswa Mutakhorijin Mengikuti Prosesi Musalsal

Kajen-Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis pesantren salaf, Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen Margoyoso Pati terus mengupayakan langkah guna mempertahankan tradisi kepesantrenan. Salah satu yang dipertahankan dan menjadi tradisi tahunan adalah diselenggarakannya prosesi musalsal bagi siswa-siswa mutakhorijin—sebutan bagi siswa kelas 3 Aliyah. Prosesi musalsal dipimpin langsung oleh Direktur PIM KH MA Sahal Mahfudz di kediaman beliau di komplek Pesantren Maslakul Huda Kajen (Rabu, 06 Juni 2012).
Kegiatan ini merupakan prosesi pemberian ijazah beberapa hadits yang jalur periwayatan hadits itu, baik rowi dan sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Hadits-hadits tersebut bukan hanya sama berupa ucapan dan lafadznya saja, melainkan mencakup sifat-sifat serta perilaku nabi ketika menyampaikannya. Dalam bahasa sederhananya, penyampaian hadits-hadits tersebut mencakup hal-hal khusus. Misalkan ketika menyampaikan sebuah hadits nabi melakukan gerakan berupa memegang jenggotnya, maka periwayat juga melakukan hal yang sama. Begitu pula saat nabi menyampaikan sebuah hadits dengan menangis, periwayat pun harus menangis ketika meriwayatkan hadits tersebut. Periwayatan sanad hadits—sebagaimana dijelaskan KH MA Sahal Mahfudz—merupakan keistimewaan umat Nabi Muhammad.
Ada sembilan hadits yang diijazahkan oleh Mbah Sahal—sapaan akrab KH MA Sahal Mahfudz—kepada para siswa. Hadits-hadits yang terangkum dalam kitab Lum’at al-Himmah ila al-Musalsalat al-Muhimmah ialah musalsal bi al-awaliyah, musalsal bi a’udzubillahi mina as-syaithan ar-rajim, musalsal bi qira’ah surat al-fatihah, musalsal bi qira’ah ayat al-kursi, musalsal bi al-mahabbah, musalsal bi al-ru’ya, musalsal bi al-mushafahah, musalsal bi al-musyabakah, dan musalsal bi khatmi al-majlis bi ad-du’a. Kitab kecil tersebut disusun oleh Mbah Sahal atas berbagai pertimbangan. Dari banyaknya hadits musalsal yang beliau miliki, kesembilan hadits inilah yang dianggap paling penting di antara hadits-hadits musalsal lainnya.
Dalam pidato berbahasa Arabnya, Mbah Sahal menjelaskan bahwa beliau mendapatkan ijazah musalsal tersebut dari seorang syekh Makkah bernama Syekh Yasin al-Fadany al-Makky. Syekh yang konon memiliki 500 guru inilah yang mengijazahkan sanad seluruh kitab yang pernah dibacanya kepada beliau. Di lain kesempatan, Mbah Sahal berpesan agar para siswa selalu melakukan setiap hal dengan ilmu.
“Sebab jika ilmu tidak diamalkan, besok di hari kiamat ilmu itu akan menuntut,” tegasnya.

Terharu
Siswa kelas 3 Aliyah yang berjumlah 125 mengikuti prosesi acara mulai pembukaan hingga penutup dengan khidmat. Mereka dipandu Mbah Sahal membaca kitab musalsal bersamaan dan menirukan apa yang Mbah Sahal contohkan. Seperti saat membaca musalsal bi a’udzubillahi min as-syaithan ar-rajim, Mbah Sahal  mengingatkan agar para siswa terlebih dahuli membaca lafadz ‘a’udzubillahi as-sami’il ‘alim’, kemudian Mbah Sahal membenarkan bacaan mereka dengan bacaan ta’awudz ’’a’udzubillahi min as-syaithan ar-rajim’’. Barulah para siswa membaca ta’awudz dengan benar. Tak sedikit siswa menitikkan air mata karena terharu.
“Jadi ingat segala kesalahan yang pernah dilakukan selama sekolah,” aku M Nur Faizin, siswa kelas 3 Aly A. Ia mencontohkan beberapa kenakalan-kenakalan yang dilakukannya semisal kurang memperhatikan pelajaran, menyakiti perasaan guru dan teman, hingga tindakan-tindakan tidak benar lainnya.
“Semoga itu (kesalahan) tidak menyebabkan tertutupnya pintu ridla dari sang guru yang membuat ilmu kita tidak bermanfaat,” harap siswa yang bersekolah di PIM sejak tingkat Diniyah Ula itu.
Namun beberapa siswa terlihat sumringah setelah prosesi yang ditutup dengan foto bersama direktur itu berakhir.
“Ya senang bisa merasakan musalsal dengan direktur. Harapannya mampu menjadi insan yang shalih dan akrom,” ucap M Sholeh, siswa asal Jambi. (es-o. doknewss).
Mbah Sahal membacakan musalsal di hadapan para siswa